ABI Sulsel Buka Puasa Bersama dan Tebar Santunan ke Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa

Makassar, Respublica— DPW Ahlulbait Indonesia (ABI) Sulawesi Selatan (Sulsel) yang didukung oleh Dana Mustadhafin menggelar kegiatan buka puasa bersama bertajuk “Seribu Berkah Ramadan Se Kota Makassar 1447 H” di Jalan Sungai Tangka No 37, Makassar, Minggu (1/3/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum berbagi dengan anak yatim dan dhuafa sekaligus menyalurkan bantuan sebagai bentuk kepedulian dan penguatan solidaritas sosial di tengah masyarakat.

ads

Kegiatan diisi dengan lantunan shalawat, lalu dilanjutkan dengan tausiyah Ramadan yang disampaikan oleh Ustadz Dr. H. Andi Erwin Baharuddin, Lc., M.A. Setelah tausiyah, peserta disuguhkan penampilan seni berupa narasi kisah sahabat Nabi.

Suasana kemudian dibuat lebih hangat dan interaktif melalui sesi kuis dan ice breaking. Rangkaian acara ditutup dengan pemberian bingkisan dan santunan kepada anak-anak panti asuhan.

Ketua DPW ABI Sulsel, Imran Latief, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memanfaatkan Ramadan untuk menghadirkan kemaslahatan yang nyata.

“Jadi ini kan kegiatan berbagi bersama memanfaatkan momentum Ramadan yang dilaksanakan oleh ABI, salah satu ormas Islam yang agak minoritas ya karena secara mazhab dia berorientasi pada mazhab Ahlulbait atau mazhab Syiah,” ujarnya.

Sebagai organisasi yang berada pada posisi minoritas, ia mengakui ABI kerap dipersepsikan melalui stigma yang berkembang di tengah masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kelompok minoritas di Indonesia sering kali dipandang melalui narasi yang tidak utuh, dibangun dari sudut pandang pihak luar sehingga memunculkan kesalahpahaman.

Karena itu, menurutnya, cara terbaik untuk mengurai stigma bukanlah melalui perdebatan atau argumentasi yang berpotensi memperkeruh suasana, melainkan lewat aksi nyata yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat.

“Jadi bukan melalui konsep-konsep apologetik atau debat argumentatif yang bisa saja memperkeruh suasana, tetapi kita mau kalau kata Nabi khairukum anfa’ukum linnas, sebaik-baik kita yang memberi manfaat,” jelas Imran.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut tidak sekadar berbuka puasa bersama, tetapi juga mengandung berbagai nilai amal.

“Selain ini kan ada dengan acara ini kan sebenarnya ada banyak amal di sini. Yang pertama menyantuni anak yatim, memberi makan orang berpuasa, dan yang di atas itu semua idkhalus surur, apa namanya memasukkan kebahagiaan,” tuturnya.

Imran menggambarkan bahwa bantuan materi yang diberikan mungkin terlihat kecil secara nominal, seperti Rp20.000 atau Rp50.000, dan bagi sebagian orang dianggap biasa saja.

Namun, menurutnya, bagi anak-anak yatim yang menerima, bantuan tersebut menghadirkan kebahagiaan besar di tengah kondisi kekurangan yang mereka alami, bahkan senyum yang terpancar dari mereka menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Ia memperkirakan sekitar 400 hingga 500 anak yatim dari berbagai panti asuhan di Makassar hadir dalam kegiatan tersebut, di luar para pengurus.

“Karena itu, kami memfokuskan penerima santunan pada anak yatim dengan rentang usia 6 hingga 13 tahun, yakni mereka yang masih berada di usia sekolah, maksimal setingkat kelas 2 SMP atau kelas 8,” tutupnya.

Comment