Enrekang/Toraja, Respublica— Sebanyak 121 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) STKIP Andi Matappa mengikuti kegiatan Log Book Eduwisata Mahasiswa PGSD STKIP Andi Matappa untuk Study Tour Enrekang–Toraja Utara yang berlangsung pada 7–9 April 2026.
Mengusung tema “Mengenal Akar, Mengukir Nalar”, kegiatan ini dirancang bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan bagian dari eduwisata akademikyang menekankan refleksi, berpikir kritis, dan pengembangan ide pembelajaran bagi calon guru sekolah dasar.

rangkaian study tour disusun sebagai instrumen pembelajaran lapangan. Setiap lokasi kunjungan diposisikan sebagai “ruang kelas”, sementara setiap pengalaman mahasiswa diarahkan menjadi bahan belajar lintas mata kuliah.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menjadi pengalaman lapangan, tetapi juga bagian dari portofolio eduwisata mahasiswa dalam memandang tempat-tempat yang dikunjungi dari perspektif calon pendidik.
Rangkaian kegiatan dimulai pada hari pertama, Selasa, 7 April 2026, dengan kunjungan ke Universitas Muhammadiyah Enrekang (UNIMEN), dilanjutkan ke Dante Pine Enrekang/Gunung Bambapuang, serta Landmark Kota Makale. Kunjungan ini menjadi pengantar awal bagi mahasiswa untuk mengamati potensi lanskap alam, lingkungan sosial, dan ruang publik sebagai sumber belajar kontekstual.

Pada hari kedua, Rabu, 8 April 2026, rombongan melanjutkan perjalanan ke UKI Toraja, Rante Bori Kalimbuang. Lokasi-lokasi tersebut mempertemukan mahasiswa dengan warisan budaya Toraja yang kaya, mulai dari tradisi pemakaman, rumah adat, seni ukir, hingga peninggalan megalitikum yang menyimpan nilai sejarah, sosial, dan spiritual.
Sementara itu, pada hari ketiga, Kamis, 9 April 2026, mahasiswa mengunjungi To’tombi dan Puncak Dipomelo Pindan, Lolai, Kampung To’barana Sa’dan, dan kemudian mengunjungi Ke’te’ Kesu’, Londa Ancient Graveyard, dan singgah di pusat oleh-oleh Deppa’ Tori di Enrekang.
Dalam rangkaian ini, mahasiswa berkesempatan melihat langsung bentang alam “Negeri di Atas Awan”, kehidupan masyarakat lokal, tradisi menenun dan kembalo melihat tradisi pemakaman, rumah adat, seni ukir, hingga potensi ekonomi kreatif berbasis pangan lokal.
Substansi akademik menjadi kekuatan utama kegiatan ini. Berdasarkan logbook, eduwisata tersebut mengintegrasikan lima bidang utama pembelajaran SD, yakni Matematika, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Bahasa dan Sastra, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Karena itu, setiap lokasi tidak diperlakukan sebagai objek wisata semata, melainkan sebagai media pembelajaran nyata yang dapat diterjemahkan ke dalam praktik mengajar di sekolah dasar.
Sebagai contoh, kawasan Gunung Bambapuang dan lanskap pegunungan Enrekang dapat dikaitkan dengan pembelajaran IPA dan Matematika, seperti suhu, ekosistem, pengukuran, serta pengamatan lingkungan.
Situs Londadapat dipahami dalam perspektif warisan budaya, geologi, dan konsep waktu, sementara Tongkonan, tenun Sa’dan, dan kampung adat dapat dihubungkan dengan pola, geometri, literasi budaya, narasi, dan identitas sosial. Adapun singgahan di Deppa’ Tori memberi konteks pembelajaran tentang ekonomi lokal dan teknologi pangan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Selain sisi akademik, kegiatan ini juga menonjolkan nilai-nilai pendidikan yang penting bagi calon guru. Mahasiswa diarahkan untuk mengembangkan toleransi, penghargaan terhadap keragaman budaya, kepedulian pada warisan lokal, serta kemampuan mengintegrasikan pengetahuan lokal ke dalam pembelajaran SD.
Kunjungan ke UKI Toraja, misalnya, dapat dibaca sebagai ruang pembelajaran tentang sastra anak dan toleransi, sedangkan kunjungan ke situs budaya Toraja menguatkan pemahaman tentang kepercayaan lokal, pelestarian cagar budaya, dan tanggung jawab warga negara dalam menjaga identitas daerah.
Tidak berhenti pada observasi lapangan, kegiatan ini juga dirancang untuk menghasilkan produk akademik yang relevan dengan profesi mahasiswa sebagai calon guru. Melalui logbook, mahasiswa didorong menyusun ide pembelajaran untuk SD, refleksi harian, matriks koneksi lintas bidang studi, rencana micro-teaching berdurasi 35 menit, hingga surat reflektif kepada siswa.
Pola ini menunjukkan bahwa eduwisata menjadi sarana pembelajaran yang produktif, karena pengalaman lapangan langsung diterjemahkan ke dalam rancangan mengajar yang aplikatif.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa didampingi oleh pemuda asli Toraja yang bertindak sebagai pemandu, yakni Owen Pasulun (Instagram: @owen_pasulun) dan Andi Rizka (Instagram: @andirizka4).
Sementara dokumentasi kegiatan didukung oleh fotografer Syaiful Arsyad (Instagram: @syaiful.arsyad) yang membantu mengabadikan setiap rangkaian kegiatan eduwisata tersebut.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan langsung dari Pemerintah Kabupaten Toraja Utara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Dukungan tersebut diberikan melalui Kepala Dinas, Mercyanne Oktavia, S.Kom., M.M., yang memberikan rekomendasi fasilitas retribusi guna menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan.
Melalui tema “Mengenal Akar, Mengukir Nalar”, study tour ini menegaskan bahwa perjalanan pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas.
Bagi mahasiswa PGSD STKIP Andi Matappa, Enrekang dan Toraja menjadi ruang belajar hidup untuk membaca alam, memahami budaya, melatih nalar, serta menyiapkan diri menjadi guru SD yang peka terhadap konteks lokal dan mampu mengubah pengalaman menjadi pembelajaran bermakna.
Comment