Makassar, Respublica— Terpilihnya Munafri Arifuddin alias Appi sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Selatan dinilai berpotensi membawa energi baru bagi partai berlambang bintang mercy tersebut.
Kehadiran Wali Kota Makassar itu dipandang dapat membuka akses terhadap jaringan politik baru sekaligus menghidupkan kembali kekuatan-kekuatan politik yang sebelumnya pernah menjadi bagian dari perjalanan Demokrat di Sulawesi Selatan.

Pengamat politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Andi Ali Armunanto, menilai keputusan Demokrat memilih Appi lebih mencerminkan pertimbangan prospek politik ke depan.
Menurutnya, posisi Appi sebagai kepala daerah memberikan keuntungan tersendiri dalam membangun pengaruh politik. Sebagai wali kota, Appi memiliki panggung politik yang cukup luas untuk menjangkau berbagai kelompok masyarakat.
“Saya lebih melihat Demokrat memilihnya sebagai sebuah bentuk prospektif. Kenapa? Karena dengan posisinya sebagai Wali Kota saya kira memang Pak Appi ini akan punya prospek yang cukup bagus untuk menguatkan kembali Partai Demokrat,” ujarnya.
Ali menjelaskan, Appi juga memiliki jaringan politik dan massa yang cukup kuat, khususnya di Makassar. Jaringan tersebut berpotensi kembali diaktifkan untuk mendukung kerja-kerja politik Demokrat.
Ia mencontohkan keberadaan tim-tim relawan dan jaringan pemenangan Appi dalam sejumlah kontestasi politik sebelumnya yang dapat menjadi modal untuk memperluas basis dukungan partai.
Selain itu, kepemimpinan Appi dinilai berpotensi menghadirkan suasana baru di tengah kondisi Demokrat yang membutuhkan dorongan untuk kembali bergerak.
Ali melihat perubahan kepemimpinan juga dapat diikuti pergeseran jaringan politik. Fenomena serupa pernah terlihat ketika Ilham Arief Sirajuddin berpindah dari Partai Golkar ke Demokrat, yang kemudian turut diikuti sejumlah jaringan politiknya.
Menurutnya, dinamika tersebut memungkinkan Demokrat memperoleh tambahan pemain politik sekaligus membuka ruang bagi lahirnya gagasan dan strategi baru.
“Taruhlah misalnya jaringan JK, jaringan Bosowa, yang bisa menjadi basis. Kemudian tadi kanvaser dan lain-lain,” ungkapnya.
Meski demikian, Ali mengakui Appi belum tentu memiliki relasi politik yang kuat di seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Namun, statusnya sebagai Wali Kota Makassar dinilai dapat memberikan optimisme bagi para ketua DPC Demokrat di kabupaten/kota.
Ia berharap kehadiran Appi mampu menginspirasi pengurus partai di daerah untuk kembali menghidupkan gerakan politik yang pernah membawa Demokrat meraih kesuksesan.
Di sisi lain, Ali mengingatkan bahwa memimpin partai politik memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan mengelola pemerintahan maupun perusahaan.
Menurutnya, manajemen partai membutuhkan kemampuan membangun komunikasi, konsolidasi, serta mengelola dinamika internal yang tidak selalu berjalan sesuai garis koordinasi formal.
“Karena tentu memanage birokrasi, memanage perusahaan itu sangat berbeda dengan memanage partai politik,” jelasnya.
Ia menjelaskan, organisasi pemerintahan dan perusahaan umumnya memiliki dukungan anggaran operasional serta mekanisme koordinasi dan loyalitas yang lebih terukur.
Sementara partai politik memiliki karakter berbeda karena banyak bergantung pada iuran anggota dan dinamika hubungan antarkader.
“Sehingga itu akan menjadi tantangan tersendiri,” katanya.
Ali juga menilai pengalaman Appi dalam mengelola partai politik masih perlu terus berkembang. Meski memiliki pengalaman di dunia politik dan pemerintahan, pengelolaan organisasi partai membutuhkan proses pembelajaran tersendiri.
Namun, ia optimistis Appi memiliki kesempatan untuk berkembang seiring proses konsolidasi organisasi.
“Saya kira orang yang mau belajar, kalau tidak, kan dia tidak ikut pemilihan Wali Kota sampai tiga kali,” tutupnya.
Comment