Wafatnya Yesus Kristus dan Kerentanan Kita

Puncak kesendirian manusia

Di suatu pagi yang tegang di Yerusalem, seorang lelaki dari Nazaret digiring dari satu ruang kekuasaan ke ruang kekuasaan lain. Ia bukan panglima perang, bukan pula pemberontak bersenjata. Namun diperlakukan sebagai ancaman.

Dalam kisah yang dirangkum dari berbagai tradisi Injil dan catatan sejarah Romawi, Yesus Kristus ditangkap, diadili, dan akhirnya dijatuhi hukuman mati melalui penyaliban, sebuah metode eksekusi paling kejam yang lazim digunakan Kekaisaran Romawi terhadap mereka yang dianggap berbahaya bagi tertib publik, dan tentunya berbahaya bagi rezim.

ads

Ia dibawa ke hadapan Pontius Pilatus, gubernur Romawi yang berada dalam posisi serba dilematis. Di satu sisi, ia tak menemukan kesalahan fatal yang layak dihukum mati. Di sisi lain, tekanan massa dan elite religius begitu kuat.

Dalam kerumunan yang gaduh itu, keadilan seperti kehilangan suara. Pilatus akhirnya menyerah pada arus, membasuh tangannya sebagai simbol pelepasan tanggung jawab, sebuah gestur yang hingga hari ini terasa ironis sekaligus tragis.

Yesus disiksa, dipermalukan, dan dipaksa memikul salibnya sendiri menuju sebuah bukit bernama Golgota, bersama beberapa orang yang dilabeli penjahat. Tubuhnya dipaku pada kayu, dibiarkan menggantung dalam penderitaan yang perlahan mematikan.

Penyaliban bukan hanya soal kematian fisik, tetapi juga penghancuran martabat manusia secara total. Ia adalah tontonan publik, pesan politik, dan instrumen teror dalam satu peristiwa. Dalam beberapa jam yang panjang, ia mengalami apa yang bisa disebut sebagai puncak kesendirian manusia.

Ia ditinggalkan oleh banyak pengikutnya, diejek oleh orang banyak, dan dalam satu momen yang menggetarkan sejarah, ia berseru bahwa ia merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Seruan ini bukan sekadar kalimat religius, tetapi gema dari kedalaman penderitaan manusia yang paling sunyi.

Kematian itu terjadi di tengah hiruk pikuk dunia yang tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang berlangsung. Sebagian melihatnya sebagai hukuman yang layak, sebagian lain sebagai tragedi, dan sebagian kecil sebagai misteri ilahi. Namun satu hal yang tidak dapat disangkal, peristiwa ini tak pernah berhenti berbicara kepada manusia lintas zaman.

Saya sering membayangkan berada di sana, bukan sebagai tokoh penting, melainkan sebagai salah satu dari kerumunan. Mungkin saya akan diam, mungkin saya akan ragu, mungkin saya akan ikut terbawa arus. Dan di situlah kegelisahan itu muncul. Bahwa tragedi Golgota bukan hanya cerita masa lalu, tetapi cermin bagi kecenderungan kita hari ini.

Dari teologi hingga refleksi politik

Dalam lanskap filsafat modern, kematian Yesus tak berhenti sebagai peristiwa teologis. Ia menjadi medan refleksi eksistensial dan bahkan politik. Dua pemikir yang paling tajam membaca ulang peristiwa ini adalah Søren Kierkegaard dan Slavoj Žižek. Keduanya berdiri di kutub yang berbeda, namun justru bertemu dalam satu kesadaran yang sama bahwa salib adalah gangguan terhadap kenyamanan manusia.

Bagi Kierkegaard, wafatnya Yesus adalah paradoks mutlak. Ia bukan sekadar kontradiksi logis antara yang kekal dan yang fana, tetapi benturan yang memaksa manusia menyadari keterbatasan akalnya sendiri. Dalam Practice in Christianity yang terbit pada tahun 1850, Kierkegaard menegaskan bahwa salib adalah skandal. Ia tak bisa dinetralkan, tidak bisa dijadikan sekadar simbol estetis, dan tidak bisa dipahami sepenuhnya melalui rasio.

Kierkegaard menolak pendekatan sistematis ala G. W. F. Hegel yang mencoba merasionalisasi seluruh realitas dalam satu kerangka logika. Baginya, iman justru dimulai di titik di mana rasio berhenti. Wafatnya Yesus adalah panggilan untuk melakukan lompatan iman, sebuah keputusan eksistensial yang tidak memiliki jaminan objektif.

Dalam konteks ini, kebenaran tak ditemukan dalam data historis atau analisis objektif, tetapi dalam keterlibatan subjektif. Kierkegaard terkenal dengan diktumnya bahwa subjektivitas adalah kebenaran. Ini bukan relativisme, melainkan penegasan bahwa kebenaran eksistensial hanya menjadi nyata ketika dihidupi. Mengetahui bahwa Yesus mati tidaklah cukup. Yang penting adalah bagaimana kematian itu menggetarkan kehidupan kita sendiri.

Lebih jauh lagi, secara teoritis Kierkegaard dapat dibaca sebagai kritik terhadap epistemologi modern yang terlalu percaya pada fondasi objektif. Ia seolah mengatakan bahwa dalam perkara eksistensi, manusia tak pernah berdiri di atas tanah yang kokoh, melainkan di atas jurang kemungkinan. Lompatan iman bukanlah tindakan irasional dalam arti negatif, tetapi bentuk rasionalitas lain yang berakar pada keberanian eksistensial.

Dalam hal ini, iman adalah keputusan yang melampaui kalkulasi, sebuah komitmen yang tidak bisa ditunda hingga semua bukti tersedia. Ia mengandaikan risiko, bahkan kemungkinan salah. Dan justru di situlah nilainya. Sebab tanpa risiko, tidak ada eksistensi yang otentik.

Sementara itu, Žižek membaca salib dengan cara yang jauh lebih provokatif. Dalam The Fragile Absolute (2000) dan The Puppet and the Dwarf (2003), ia mengembangkan gagasan tentang ateisme Kristen. Bagi Žižek, kematian Yesus adalah kematian Tuhan sebagai Liyan Besar, sebuah otoritas transenden yang selama ini dianggap menjamin makna dan keteraturan dunia.

Menggunakan kerangka psikoanalisis Lacanian, Žižek melihat bahwa manusia selalu mencari jaminan dari sesuatu yang lebih besar. Kita ingin percaya bahwa ada rencana, ada makna tersembunyi, ada tangan yang mengatur segalanya. Namun dalam momen salib, terutama ketika Yesus berseru bahwa ia ditinggalkan, ilusi itu runtuh.

Secara filosofis, pembacaan Žižek dapat dipahami sebagai radikalisasi dialektika Hegelian yang menolak rekonsiliasi akhir. Jika dalam G. W. F. Hegel kontradiksi diselesaikan dalam sintesis, maka dalam Žižek kontradiksi justru dipertahankan sebagai luka yang senantiasa terbuka dalam realitas.

Kematian Kristus bukanlah jalan menuju harmoni metafisik, tetapi pengakuan bahwa realitas itu sendiri terstruktur oleh ketiadaan dan ketidaksempurnaan. Dengan kata lain, tidak ada fondasi ontologis yang stabil di balik dunia ini. Yang ada hanyalah relasi relasi yang rapuh, yang harus terus dinegosiasikan oleh manusia.

Bagi Žižek, yang mati di salib bukan hanya manusia Yesus, tetapi juga Tuhan sebagai penjamin makna. Dunia menjadi tanpa fondasi transenden. Ini bukan sekadar pernyataan ateistik, tetapi pengakuan bahwa manusia harus menghadapi realitas tanpa perlindungan metafisik. Namun Žižek tidak berhenti pada nihilisme.

Ia melihat bahwa setelah kematian itu, yang tersisa adalah komunitas. Roh Kudus, dalam tafsirnya, bukan entitas gaib, tetapi jaringan solidaritas manusia yang saling menopang tanpa jaminan dari atas. Ini adalah etika yang lahir dari ketiadaan, sebuah komitmen untuk bertindak benar bukan karena diperintah, tetapi karena kita memilihnya.

Kerentanan kita

Jika kita menarik refleksi ini ke situasi saat ini, kita akan menemukan bahwa kondisi kemanusiaan kita dalam situasi rapuh nan rentan. Kita hidup di era kecerdasan buatan yang berkembang pesat.

Menurut laporan McKinsey tahun 2025, sekitar 30 persen pekerjaan global berpotensi terdampak otomatisasi dalam satu dekade ke depan. Di satu sisi, teknologi menjanjikan efisiensi. Di sisi lain, ia menghadirkan kecemasan baru tentang masa depan manusia.

Saya sering bertanya pada diri sendiri, apakah kecerdasan buatan akan menggantikan kita, atau justru memperlihatkan bahwa kita sendiri belum sepenuhnya memahami apa itu menjadi manusia. Dalam konteks ini, salib menjadi simbol yang mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak terletak pada kemampuan, tetapi pada kerentanan.

Selain itu, kita menghadapi krisis ekologis yang semakin nyata. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (2023) menunjukkan bahwa suhu global telah meningkat sekitar 1,1 derajat Celsius dibandingkan era pra industri.

Dampaknya tidak lagi abstrak. Banjir, kekeringan, dan bencana alam menjadi bagian dari kehidupan sehari hari. Di tengah krisis ini, manusia sering merasa kecil dan tidak berdaya. Kita menyadari bahwa tidak ada kekuatan eksternal yang akan secara ajaib menyelamatkan planet ini. Dalam bahasa Žižek, tidak ada Big Other yang akan turun tangan. Kita hanya memiliki satu sama lain.

Di sisi lain, ketidakpastian global akibat konflik dan perang semakin memperburuk situasi. Menurut data United Nations High Commissioner for Refugees tahun 2024, lebih dari 114 juta orang di dunia terpaksa mengungsi akibat konflik dan kekerasan, belum lagi dengan situasi yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah. Angka ini bukan sekadar statistik namun kisah tentang kehilangan rumah, identitas, dan harapan.

Dalam dunia seperti ini, refleksi tentang kematian Yesus menjadi relevan. Dari Kierkegaard, kita belajar bahwa menjadi manusia berarti berani mengambil keputusan di tengah ketidakpastian. Dari Žižek, kita belajar bahwa kita tidak bisa lagi bergantung pada jaminan eksternal. Namun mungkin pelajaran paling penting adalah ini.

Bahwa kerentanan bukanlah kelemahan yang harus dihapus, tetapi kondisi dasar yang harus diterima. Salib menunjukkan bahwa bahkan dalam titik paling rendah, ada kemungkinan untuk tetap setia pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Saya tidak melihat salib sebagai simbol agama tertentu saja. Ia adalah metafora tentang keberanian untuk tetap bertahan ketika segala sesuatu runtuh. Ia adalah pengingat bahwa dalam dunia yang tidak pasti, makna tidak diberikan, tetapi diciptakan.

Kita mungkin tidak memiliki jawaban pasti tentang masa depan. Kita tidak tahu persis, bagaimana kecerdasan buatan akan membentuk kehidupan kita, atau apakah krisis ekologis dapat kita atasi. Namun seperti yang ditunjukkan oleh peristiwa Golgota, manusia selalu memiliki pilihan.

Pilihan untuk menyerah atau bertahan. Pilihan untuk egois atau peduli. Pilihan untuk diam atau bertindak. Dan mungkin, di tengah semua ketidakpastian ini, itulah yang paling penting. Bukan kepastian, tetapi keberanian untuk terus memilih.

**Penulis adalah Pengamat Politik dan Direktur Profetik Institute

Comment