Pengamat Sebut Golkar Sulsel Butuh Figur Baru agar Bangkit di Pemilu 2029

Makassar, Respublica— Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan 2026 dinilai akan menjadi penentu arah baru partai berlambang pohon beringin tersebut di Sulsel.

Momentum ini disebut bukan hanya soal pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi ajang evaluasi terhadap penurunan performa elektoral Golkar dalam dua pemilu terakhir.

ads

Direktur Profetik Institute, Asratillah, mengatakan posisi dominan Golkar di Sulsel mulai mengalami pergeseran sejak Pemilu 2019 dan semakin terlihat pada Pemilu 2024. Padahal selama bertahun-tahun, Sulsel dikenal sebagai salah satu basis suara terbesar Golkar di Indonesia.

Menurutnya, kondisi tersebut terlihat dari berkurangnya pengaruh Golkar di sejumlah wilayah strategis, termasuk kegagalan mempertahankan kursi Ketua DPRD Sulsel pada Pemilu 2024.

“Golkar Sulsel sedang menghadapi krisis elektoral dan krisis citra sekaligus. Ini terlihat dari kegagalan mempertahankan dominasi politik di beberapa daerah strategis, termasuk kehilangan kursi Ketua DPRD Sulsel pada Pemilu 2024,” kata Asratillah di Makassar, Selasa.

Ia mengacu pada data KPU Sulsel Nomor 740 Tahun 2024 yang menunjukkan Partai Partai NasDem meraih 887.682 suara, diikuti Partai Gerakan Indonesia Raya dengan 812.563 suara. Sementara Golkar berada di posisi ketiga dengan 770.454 suara.

Asratillah menilai kemerosotan suara Golkar tidak hanya dipengaruhi faktor organisasi, tetapi juga perubahan perilaku pemilih yang kini lebih mempertimbangkan figur dan rekam jejak kandidat.

“Pemilih sekarang lebih cair. Mereka melihat integritas figur, kedekatan dengan publik, dan kemampuan menghadirkan harapan baru. Politik hari ini tidak cukup hanya mengandalkan nostalgia kejayaan masa lalu,” ujarnya.

Terkait bursa calon Ketua Golkar Sulsel, Asratillah menyebut sejumlah nama yang ramai diperbincangkan memiliki kekuatan masing-masing. Di antaranya Ilham Arief Sirajuddin yang dinilai unggul dari sisi pengalaman dan jaringan politik. Sementara Andi Ina Kartika Sari disebut membawa semangat regenerasi dan energi baru di tubuh partai.

Di sisi lain, Asratillah melihat Munafri Arifuddin atau Appi memiliki karakter yang dianggap sesuai dengan kebutuhan Golkar saat ini. Ia menilai Appi memiliki citra yang relatif  lebih mudah diterima kalangan pemilih muda maupun kelas menengah perkotaan.

“Dalam konteks itu, Appi memiliki modal yang cukup kuat karena dia membawa kesan pembaruan dan tidak terlalu dibebani konflik politik masa lalu,” jelasnya.

Menurut Asratillah, dukungan sejumlah DPD II kepada Appi memperlihatkan adanya dorongan dari internal partai untuk menghadirkan pola kepemimpinan yang lebih adaptif terhadap perkembangan politik saat ini.

Meski demikian, ia menegaskan peta persaingan menuju Musda Golkar Sulsel masih sangat dinamis dan belum dapat dipastikan.

“Dalam politik Golkar, keputusan akhir sering ditentukan oleh kombinasi antara dukungan daerah dan restu pusat. Karena itu semua kemungkinan masih bisa terjadi sampai menjelang Musda,” tutupnya.

Comment