Homestay di Danau Matano, Peluang Menarik bagi Ekonomi Warga Lokal

Luwu Timur, Respublica— Di tepian Danau Matano yang tenang dan dalam, denyut kehidupan masyarakat tak pernah berhenti. Airnya yang jernih, perbukitan yang mengelilingi, serta lanskap yang masih relatif alami menjadikan kawasan ini sebagai salah satu destinasi unggulan di Luwu Timur.

Namun, seperti banyak daerah wisata lain di Indonesia, pandemi COVID-19 sempat memukul keras sektor ini. Dampaknya sangat terasa karena menghentikan arus wisatawan dan, pada saat yang sama, meredupkan sumber penghidupan masyarakat lokal.

ads

Di tengah situasi itulah, penelitian yang dilakukan oleh Wayan Suardana pada 2024 menemukan satu jalur pemulihan yang sederhana namun strategis: homestay berbasis masyarakat.

Alih-alih membangun hotel besar atau resort yang membutuhkan investasi tinggi, gagasan ini berangkat dari sesuatu yang sudah ada: rumah warga

Dengan pendekatan yang tepat, rumah tinggal bisa diubah menjadi ruang singgah bagi wisatawan. Bukan sekadar tempat bermalam, tetapi juga pintu masuk untuk merasakan kehidupan lokal secara lebih autentik.

Penelitian tersebut mencatat, setidaknya telah berkembang 11 unit usaha homestay di kawasan Danau Matano, khususnya di Kecamatan Nuha. Jumlah ini mungkin terlihat kecil, tetapi secara simbolik menunjukkan bahwa masyarakat mulai bergerak.

Mereka tidak lagi hanya menjadi penonton dalam industri pariwisata. Mereka secara perlahan mengambil peran sebagai pelaku utama. Namun, jalan menuju ke sana tidak sepenuhnya mulus.

Di tingkat masyarakat, masih terdapat keraguan yang cukup kuat. Banyak warga merasa wisatawan akan lebih memilih hotel atau vila dibandingkan rumah tinggal.

Ada pula kekhawatiran yang lebih personal. Yakni ketidaksiapan menerima orang asing dalam ruang privat mereka. Bagi sebagian orang, rumah bukan sekadar bangunan. Ia adalah ruang intim yang tidak mudah dibagi.

Selain itu, persoalan lokasi juga menjadi pertimbangan. Rumah-rumah warga sering dianggap terlalu jauh dari pusat keramaian seperti Sorowako, padahal wisatawan kerap mencari akomodasi yang dekat dengan fasilitas umum.

Belum lagi persepsi bahwa membangun homestay membutuhkan biaya besar, sehingga membuat banyak warga mengurungkan niat sejak awal. Di sisi lain, ada persoalan yang lebih struktural: minimnya pengetahuan dan pelatihan.

Banyak masyarakat belum memahami bahwa homestay tidak harus dibangun dari nol, tidak harus mewah, dan justru seringkali menarik karena kesederhanaannya.

Mereka juga belum memiliki keterampilan dalam hal promosi, pelayanan tamu, hingga pengelolaan usaha secara berkelanjutan. Padahal, jika ditarik lebih jauh, homestay bukan hanya soal ekonomi.

Ia adalah medium yang menghubungkan wisatawan dengan budaya lokal—dari cara hidup, makanan, hingga nilai-nilai keseharian. Dalam konteks ini, homestay menjadi wajah dari pariwisata yang lebih manusiawi, tidak eksploitatif, dan lebih merata manfaatnya.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa peran pemerintah dan stakeholder sebenarnya sudah ada, meskipun belum maksimal. Dukungan dari dinas terkait di tingkat kabupaten maupun provinsi telah diberikan, baik dalam bentuk program maupun kegiatan. Namun, ke depan, peran ini perlu lebih terarah dan berkelanjutan.

Beberapa langkah strategis yang diusulkan cukup konkret: pemberian insentif fiskal bagi masyarakat yang ingin mengembangkan homestay, peningkatan promosi wisata—terutama wisata bahari berbasis danau.

Serta mendorong kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Tidak kalah penting, pembangunan infrastruktur dan aksesibilitas juga harus terus diperkuat agar kawasan ini semakin mudah dijangkau.

Pada akhirnya, pengembangan homestay di Danau Matano adalah cerita tentang perubahan cara pandang. Dari yang semula melihat rumah sebagai ruang privat semata, menjadi ruang yang bisa berbagi. Dari yang awalnya ragu, menjadi percaya diri untuk terlibat dalam industri pariwisata.

Jika proses ini terus didorong, maka Danau Matano tidak hanya akan dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena masyarakatnya yang mampu mengelola potensi tersebut secara mandiri dan berkelanjutan.  Sebab di balik setiap rumah yang terbuka untuk wisatawan, ada harapan baru bagi ekonomi lokal untuk bangkit kembali.

Sumber artikel:

Suardana, Wayan (2024) Pengembangan Usaha Homestay Masyarakat Pada Destinasi Wisata Danau Matano di Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan. Politeknik Pariwisata Makassar, Kota Makassar.

Comment