Ibrahim dan Kita

Ibrahim dan luka tertua peradaban

Di berbagai tempat, bisa dikata manusia masih hidup di bawah bayang bayang altar pengorbanan. Di Gaza anak anak kehilangan rumah dan masa kecilnya di tengah reruntuhan bangunan dan dentuman misil. Data United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (2025) menunjukkan puluhan ribu warga sipil menjadi korban dalam konflik berkepanjangan di Palestina dengan proporsi terbesar adalah perempuan dan anak-anak.

Di Sudan jutaan manusia mengungsi akibat perang saudara yang mengoyak kehidupan sosial. Di Ukraina kota-kota berubah menjadi lanskap abu dan beton retak. Pada saat yang sama bumi juga mengalami penderitaan yang tidak kalah mengerikan.

ads

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (2023) memperlihatkan kenaikan suhu global telah mempercepat krisis pangan, kekeringan, banjir, dan kepunahan spesies dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern.

Peradaban modern (atau mungkin Pascamodern) ternyata tidak pernah benar benar meninggalkan logika pengorbanan. Yang berubah hanya bentuk altar dan bahasa yang dipakai untuk membenarkannya. Dahulu manusia mengikat tubuh di atas batu persembahan. Hari ini manusia diikat oleh statistik pertumbuhan ekonomi, kepentingan geopolitik, fanatisme identitas, dan kerakusan industri ekstraktif.

Hutan ditebang atas nama pembangunan. Laut diracuni demi akumulasi kapital. Buruh diperas dalam sistem kerja yang menjadikan manusia hanya angka produksi. Bahkan perang acap kali dipresentasikan sebagai jalan menuju perdamaian. Dunia modern tampak semakin canggih dalam teknologi, tetapi sering kali tetap purba dalam moralitas.

Saya sering merasa bahwa tragedi terbesar manusia modern bukanlah hilangnya kecerdasan, melainkan hilangnya kemampuan untuk gemetar di hadapan penderitaan sesama. Kita menyaksikan kematian melalui layar telepon genggam dengan dingin yang nyaris administratif. Statistik korban perang berubah menjadi angka harian yang lewat begitu saja di linimasa.

Padahal setiap angka menyimpan wajah, nama, dan kisah hidup yang tak akan kembali. Di titik inilah kisah Ibrahim terasa memperoleh gema baru yang mengejutkan. Kisah itu bukan hanya cerita tentang iman seorang nabi, melainkan cermin tentang kecenderungan manusia untuk terus menciptakan korban bagi ambisinya sendiri.

Dalam tradisi Ibrahimik terdapat adegan yang sangat kuat secara simbolik. Seorang ayah berdiri di hadapan anaknya dengan pisau di tangan. Adegan itu melampaui batas ruang dan zaman karena menyentuh ketakutan paling purba manusia tentang kehilangan dan pengorbanan.

Namun yang paling menentukan dari kisah tersebut justru bukan tindakan menyembelih, melainkan penghentian penyembelihan. Tuhan tidak membiarkan darah manusia menjadi persembahan terakhir. Dalam beberapa tradisi pembacaan spiritual, peristiwa itu merupakan transformasi besar dalam sejarah moral manusia dari budaya pengorbanan menuju penghormatan terhadap kehidupan.

Sejarah agama-agama besar memang dipenuhi ketegangan antara cinta dan kuasa, antara iman dan kekerasan. Tetapi kisah Ibrahim menghadirkan paradoks yang unik. Di satu sisi ia berbicara tentang kepatuhan mutlak kepada Yang Ilahi.

Di sisi lain ia justru mengandung pesan penghentian kekerasan. Karena itu kisah tersebut tidak pernah selesai sebagai narasi masa lampau. Ia terus hidup dalam pergulatan etika modern tentang bagaimana manusia memperlakukan sesama manusia dan alam semesta.

Narasi penyembelihan dan pesan universal kemanusiaan

Dalam tradisi Islam kisah penyembelihan dikisahkan terutama dalam Surah Ash Shaffat ayat 102 hingga 107. Ibrahim bermimpi diperintahkan menyembelih anaknya dan menyampaikan mimpi itu kepada sang anak. Respons anak tersebut sangat penting dalam struktur moral Islam. “Wahai ayahku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar.”

Dalam banyak tafsir Islam anak itu dipahami sebagai Ismail meskipun Al Qur’an tidak menyebut namanya secara eksplisit. Tradisi Islam kemudian menempatkan peristiwa tersebut sebagai simbol kepasrahan total kepada Tuhan sekaligus dasar spiritual ibadah kurban.

Dalam tradisi Yahudi dan Kristen kisah itu ditemukan dalam Kitab Kejadian pasal 22. Tuhan memerintahkan Abraham membawa Ishak ke gunung Moria untuk dipersembahkan. Teks Perjanjian Lama menampilkan ketegangan psikologis yang sangat kuat ketika Abraham mengangkat pisau sebelum malaikat menghentikannya. “Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa apakan dia.”

Dalam tradisi Yahudi peristiwa itu dikenal sebagai Akedah atau pengikatan Ishak yang dipahami sebagai lambang kesetiaan terhadap perjanjian Tuhan. Sementara dalam Kekristenan kisah tersebut sering dibaca sebagai prafigurasi pengorbanan Kristus dalam Perjanjian Baru.

Perbedaan mengenai siapa anak yang hendak dikorbankan sering menjadi arena perdebatan teologis lintas agama. Islam menempatkan Ismail sebagai figur sentral yang berkaitan dengan genealogi spiritual Arab dan kelahiran tradisi Ka’bah. Yahudi dan Kristen memusatkan narasi pada Ishak sebagai pewaris covenant Israel.

Namun jika pembacaan dilakukan dengan hati yang lebih lapang, perbedaan tersebut justru memperlihatkan bagaimana manusia dari tradisi yang berbeda berusaha memahami relasi antara cinta, iman, dan pengorbanan melalui bahasa simboliknya masing masing.

Di tengah perbedaan itu terdapat pesan universal yang sangat penting. Dalam seluruh tradisi Ibrahimik, Tuhan pada akhirnya menghentikan pembunuhan manusia. Itu berarti titik kulminasi kisah ini bukanlah darah, melainkan penyelamatan kehidupan. Dalam pengertian tersebut kisah Ibrahim dapat dibaca sebagai kritik spiritual terhadap hasrat manusia menjadikan sesama sebagai korban demi ideologi, negara, pasar, bahkan agama itu sendiri.

Saya melihat bahwa di sinilah letak kedalaman filosofis kisah Ibrahim. Ia tidak berbicara tentang kemenangan satu agama atas agama lain. Ia berbicara tentang kemungkinan etika bersama yang lahir dari pengalaman eksistensial manusia di hadapan Yang Absolut.

Ketika seorang ayah bersedia kehilangan yang paling dicintainya dan ketika Tuhan menghentikan pisau itu, kita seperti diingatkan bahwa kehidupan manusia tidak boleh tunduk sepenuhnya pada logika kekuasaan. Ada sesuatu yang sakral dalam diri manusia yang tak boleh dihancurkan.

Karena itu kisah Ibrahim sesungguhnya dapat menjadi ruang dialog antariman yang sangat kaya. Di tengah dunia yang dipenuhi politik identitas dan kebencian sektarian, kisah tersebut mengandung kemungkinan etika lintas agama tentang penghormatan terhadap kehidupan. Bahwa perbedaan tafsir tidak harus melahirkan permusuhan. Justru dari perbedaan itulah manusia belajar rendah hati bahwa jalan menuju Tuhan selalu lebih luas daripada klaim tunggal siapa pun.

Etika menjaga kehidupan

Dalam buku Fear and Trembling (1843), Søren Kierkegaard membaca Ibrahim sebagai figur “knight of faith” yang berdiri sendirian di hadapan Tuhan. Bagi Kierkegaard iman bukan kepastian yang nyaman, melainkan lompatan eksistensial ke dalam ketidakpastian yang menggetarkan.

Ibrahim menjadi simbol manusia yang rela mempertaruhkan seluruh rasionalitas demi panggilan ilahi. Namun pembacaan Kierkegaard juga menyisakan pertanyaan penting bagi dunia modern. Bagaimana membedakan iman sejati dengan fanatisme yang merasa memperoleh legitimasi kekerasan atas nama Tuhan.

Pertanyaan tersebut menjadi sangat relevan ketika dunia menyaksikan begitu banyak kekerasan yang dibungkus bahasa suci. Terorisme, perang identitas, dan ekstremisme agama sering lahir dari keyakinan bahwa tujuan tertentu lebih penting daripada kehidupan manusia itu sendiri.

Dalam konteks inilah filsuf Emmanuel Levinas menawarkan pembacaan etik yang berbeda. Dalam Totality and Infinity (1961), Levinas menyatakan bahwa wajah orang lain menghadirkan panggilan moral yang tidak boleh dilanggar. Wajah liyan berkata “jangan bunuh aku.” Etika bagi Levinas hadir sebelum doktrin dan ideologi apa pun.

Jika memakai perspektif Levinas, maka titik paling penting dalam kisah Ibrahim bukanlah ketaatan membabi buta, melainkan momen ketika pembunuhan dihentikan. Tuhan tidak menghendaki kematian anak itu.

Tuhan justru membuka ruang bagi lahirnya etika yang melampaui logika pengorbanan manusia. Dari sudut pandang ini kisah Ibrahim dapat dibaca sebagai kritik terhadap seluruh sistem sosial dan politik yang menjadikan manusia sebagai korban demi stabilitas dan kekuasaan.

Hari ini dunia masih terus membangun altar altar baru. Anak anak menjadi korban perang yang diproduksi industri senjata global. Masyarakat adat kehilangan tanah akibat ekspansi tambang dan perkebunan raksasa. Hutan dibakar demi pertumbuhan ekonomi yang hanya dinikmati segelintir elite.

Menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute (2024) pengeluaran militer dunia mencapai lebih dari 2,4 triliun dolar Amerika Serikat. Angka itu memperlihatkan betapa peradaban modern tetap memelihara infrastruktur kematian dengan sangat serius. Pisau Ibrahim memang telah berhenti ribuan tahun lalu, tetapi pisau peradaban modern terus bekerja dalam bentuk yang lebih birokratis dan impersonal.

Dalam perspektif Sayyed Hossein Nasr dalam Man and Nature (1968), krisis ekologis modern lahir karena manusia kehilangan dimensi sakral alam semesta. Modernitas memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi dan sumber daya ekonomi.

Akibatnya hubungan spiritual manusia dengan kosmos mengalami keretakan mendalam. Dalam pandangan Nasr seluruh ciptaan memiliki dimensi kesucian karena berasal dari sumber ilahi yang sama. Maka merusak alam sesungguhnya adalah bentuk kekerasan spiritual terhadap tatanan kosmik.

Saya merasa bahwa pembacaan Nasr sangat penting di tengah krisis iklim hari ini. Dunia modern terlalu lama memandang bumi sebagai benda mati yang boleh diperas tanpa batas. Padahal tanah, laut, hutan, dan udara bukan hanya komoditas ekonomi.

Mereka adalah bagian dari jaringan kehidupan yang menopang keberadaan manusia sendiri. Ketika manusia menghancurkan alam demi keuntungan sesaat, sesungguhnya manusia sedang mengangkat pisaunya sendiri ke arah masa depan generasi berikutnya.

Pada akhirnya kisah Ibrahim mengajarkan sesuatu yang sangat mendalam tentang arti iman dan kemanusiaan. Bahwa spiritualitas sejati tidak diukur dari kemampuan mengorbankan sesama, melainkan dari keberanian menghentikan segala bentuk kekerasan.

Di tengah dunia yang terus memproduksi perang, kebencian, dan kerusakan ekologis, suara yang menghentikan pisau itu terasa semakin mendesak untuk didengar kembali. Mungkin di sanalah makna terdalam agama agama Ibrahimik. Bukan menjadi alat pembenar kekuasaan, melainkan penjaga kehidupan di tengah dunia yang terlalu mudah mengorbankan manusia dan alam semesta.

**Penulis adalah Asratillah, Pengamat Politik dan Direktur Profetik Institute

Comment