Makassar, Respublica— Pergerakan harga berbagai komoditas di Sulawesi Selatan sepanjang Desember 2025 secara umum menunjukkan tren kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan di delapan kabupaten/kota, inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) tercatat sebesar 2,84 persen.

Kenaikan tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat dari 106,26 pada Desember 2024 menjadi 109,28 pada Desember 2025.
Sementara itu, secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Sulawesi Selatan mengalami inflasi sebesar 0,49 persen. Adapun inflasi sejak awal tahun hingga Desember (year-to-date/y-to-d) juga tercatat sebesar 2,84 persen.
Inflasi tahunan ini dipicu oleh naiknya harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat kenaikan sebesar 4,46 persen.
Lonjakan paling tinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang meningkat hingga 14,47 persen.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,72 persen, diikuti kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 1,24 persen.
Selain itu, kelompok transportasi mengalami kenaikan 0,42 persen, kelompok pendidikan 1,12 persen, kelompok kesehatan 1,63 persen, serta kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,46 persen.
Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik 1,26 persen, sementara kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga meningkat 0,22 persen.
Di tengah tren kenaikan tersebut, satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan harga atau deflasi adalah kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,46 persen.
Sejumlah komoditas tercatat memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi tahunan. Emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar dengan andil sebesar 1 persen.
Komoditas pangan seperti beras menyumbang 0,29 persen, cabai rawit 0,12 persen, ikan bandeng atau ikan bolu 0,11 persen, serta daging ayam ras dan sigaret kretek mesin (SKM) masing-masing sebesar 0,1 persen.
Selain itu, telur ayam ras, ikan cakalang, bawang merah, cabai merah, dan minyak goreng juga turut mendorong inflasi.
Sementara itu, secara bulanan, inflasi Desember 2025 terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga cabai rawit yang memberikan andil sebesar 0,18 persen.
Daging ayam ras menyusul dengan kontribusi 0,11 persen, diikuti bawang merah dan emas perhiasan masing-masing sebesar 0,08 persen.
Sejumlah komoditas lain seperti telur ayam ras, berbagai jenis ikan, angkutan antar kota, serta bensin turut memberikan sumbangan meski dalam porsi yang lebih kecil.
Dilihat dari kelompok pengeluaran, kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 1,36 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 1,12 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,11 persen.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran memberikan andil 0,1 persen, sementara kelompok transportasi, pendidikan, kesehatan, rekreasi, serta pakaian dan alas kaki masing-masing menyumbang di bawah 0,1 persen.
Di sisi lain, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan menjadi satu-satunya kelompok yang menahan laju inflasi dengan memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen secara tahunan.
Comment