Luwu Timur, Respublica— Di tengah melambatnya kinerja sektor pertambangan, perekonomian Kabupaten Luwu Timur di luar sektor tambang justru menunjukkan performa yang sangat menggembirakan.
Data terbaru dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Luwu Timur memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi non-tambang mengalami pertumbuhan yang signifikan pada Triwulan I 2026.

Kepala BPS Luwu Timur, Abdullah Pannu, menjelaskan bahwa perlambatan ekonomi secara keseluruhan dipengaruhi oleh menurunnya produksi pada sektor pertambangan bijih logam. Namun, jika sektor tersebut tidak dihitung, berbagai lapangan usaha lainnya mampu mencatat pertumbuhan yang jauh lebih tinggi.
Menurutnya, ekonomi non-tambang Luwu Timur tumbuh sebesar 13,87 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut menjadi salah satu yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir dan mencerminkan semakin kuatnya peran sektor-sektor produktif di luar industri ekstraktif.
“Angka capaian ini merupakan pertumbuhan ekonomi non-tambang tertinggi yang berhasil dicatat dalam lima tahun terakhir,” ujar Abdullah Pannu.
BPS mencatat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan tersebut dengan kontribusi mencapai 24,35 persen.
Posisi berikutnya ditempati sektor konstruksi sebesar 14,85 persen, disusul administrasi pemerintahan 3,98 persen, perdagangan 3,95 persen, serta industri pengolahan sebesar 3,91 persen.
Selain tumbuh secara tahunan, sejumlah sektor juga mengalami lonjakan cukup tajam jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sektor administrasi pemerintahan menjadi yang paling menonjol dengan pertumbuhan mencapai 44,17 persen.
Di belakangnya terdapat sektor konstruksi yang meningkat 30,29 persen, transportasi dan pergudangan 21,49 persen, real estat 15,60 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 13,68 persen.
Abdullah menilai pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya aktivitas pembangunan di berbagai wilayah. Pembangunan kawasan industri, fasilitas perusahaan, hingga perumahan baru turut memberikan efek berganda terhadap sektor-sektor lainnya.
Di sisi lain, meningkatnya belanja pemerintah pada awal tahun, termasuk penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), ikut mendorong perputaran ekonomi dan konsumsi masyarakat.
“Meningkatnya mobilitas penduduk serta aktifnya kegiatan perdagangan, jasa, transportasi, akomodasi, hingga penyediaan makan minum turut memperkuat performa ekonomi non-tambang kita,” jelasnya.
Untuk pertumbuhan triwulanan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan kembali menjadi penopang utama dengan kontribusi sebesar 1,78 persen. Administrasi pemerintahan memberikan andil 1,29 persen, sementara sektor real estat berkontribusi sebesar 0,11 persen.
BPS menilai capaian tersebut memperlihatkan bahwa sektor pertanian masih menjadi fondasi penting bagi perekonomian Luwu Timur. Peran sektor ini dinilai strategis karena mampu menjaga aktivitas ekonomi masyarakat hingga ke wilayah pedesaan.
Di tengah perkembangan tersebut, BPS juga menekankan pentingnya pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang saat ini sedang berlangsung. Kegiatan pendataan tersebut diharapkan mampu menghasilkan informasi yang akurat mengenai kondisi dunia usaha dan struktur ekonomi daerah.
Abdullah mengatakan data yang dihasilkan dari sensus nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan berbagai kebijakan pembangunan, termasuk mendukung program prioritas Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan pencapaian target pembangunan ekonomi daerah.
Comment