Makassar, Respublica— Kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi bahan diskusi dalam kegiatan bedah buku Kepemimpinan AHY: Dalam Beragam Sudut Pandang Tokoh Muda Indonesia yang digelar di Fireflies Pattimura, Makassar, Sabtu (7/11/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dari latar belakang berbeda untuk membahas perjalanan, gagasan, serta dinamika kepemimpinan AHY dari berbagai perspektif.

Empat pemateri yang dihadirkan yakni Herzaky Mahendra Putra, penyunting buku sekaligus Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan; Ray Suryadi Arsyad, Anggota DPRD Kota Makassar dari Partai Demokrat; Nurul Annisa, profesional di bidang MC dan public speaking; serta Achi Soleman, Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar. Diskusi dipandu moderator Rijal Djamal.
Herzaky Mahendra Putra mengatakan, bedah buku tersebut dirancang sebagai ruang diskusi terbuka yang memungkinkan gagasan tentang kepemimpinan AHY dibicarakan secara luas dari berbagai sudut pandang.
Menurutnya, sebuah diskursus kepemimpinan tidak cukup hanya dipenuhi dukungan di media sosial, tetapi perlu menghadirkan pembahasan yang memiliki substansi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jadi kalau bicara perspektif apa, justru di sinilah kelebihannya kita membuka diskusi seluas-luasnya dan seterang-terangnya dari berbagai sudut dari berbagai perspektif,” ujar Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakomstra) sekaligus Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat itu kepada wartawan.
Ia menjelaskan, perbedaan perspektif dalam diskusi justru dapat memperkaya khazanah pemikiran sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami kepemimpinan secara lebih mendalam.
“Kalau ada diskusi atau ada diskursus mengenai itu, bukan hanya ramai oleh mohon maaf suara-suara dukungan di media sosial dan banyaknya pasukan-pasukan di dunia maya tapi tanpa ada substansi,” katanya.
Herzaky berharap, pembahasan dalam buku tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pemimpin lainnya agar lebih mengutamakan kerja substantif dibandingkan membangun popularitas maupun pencitraan.
“Sehingga ini bisa menjadi inspirasi bagi pemimpin-pemimpin lain untuk bisa berfokus bukan membentuk pasukan di dunia maya, bukan sibuk dengan pencitraan diri atau memoles apa yang dia lakukan, tapi benar-benar melakukan hal-hal yang substantif dan bermanfaat untuk masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Ray Suryadi Arsyad menilai kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengambil pelajaran dari perjalanan hidup dan proses transformasi AHY, termasuk keteguhan serta kekuatan mental dalam menghadapi berbagai perubahan.
Ia berharap, pengalaman yang dibahas dalam buku itu dapat menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat, khususnya generasi muda di Kota Makassar.
“Kita berharap ini semua bisa juga menjadi pelajaran buat seluruh masyarakat Kota Makassar, terutama untuk anak-anak kita ke depan melihat sosok AHY bukan hanya bagus dilihat mata, namun juga memang menjadi rasional ketika beliau menyampaikan sebuah masukan-masukan dan tentu saja gagasan-gagasan yang baik untuk bagaimana pembangunan bangsa kita ke depannya,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ray juga menyampaikan harapan agar AHY kembali berkunjung ke Makassar. Ia menilai, pembangunan infrastruktur di kota ini masih membutuhkan perhatian, terutama terkait konektivitas antarkawasan dan pengembangan moda transportasi.
“Tentu saja kami sangat mengharapkan ya Mas AHY bisa berkunjung kembali ke Kota Makassar melihat bagaimana pembangunan infrastruktur di Kota Makassar juga memerlukan perhatian yang besar, terutama dalam hal mengkoneksikan beberapa wilayah-wilayah kami yang kemudian masih berada di status menengah lah,” jelasnya.
Ray berharap, kunjungan tersebut dapat membuka peluang komunikasi mengenai pengembangan infrastruktur dan konektivitas transportasi, termasuk kemungkinan pengembangan moda transportasi kereta.
Adapun buku Kepemimpinan AHY: Dalam Beragam Sudut Pandang Tokoh Muda Indonesia menghimpun pemikiran dan pandangan kritis dari 27 akademisi, praktisi, serta aktivis muda Indonesia mengenai arah kepemimpinan nasional di tengah berbagai tantangan zaman.
Buku tersebut tidak hanya mengulas perjalanan Agus Harimurti Yudhoyono, tetapi juga menjadikan pengalaman kepemimpinannya sebagai bahan kajian mengenai nilai, keberanian bertransformasi, dan visi dalam menghadapi kompleksitas persoalan bangsa.
Salah satu aspek yang dibahas adalah keputusan AHY meninggalkan karier militernya untuk memasuki ruang pengabdian publik yang lebih luas. Perjalanan tersebut kemudian dibaca dalam konteks perannya sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat.
Dalam perspektif buku ini, pembangunan tidak semata-mata dimaknai sebagai pembangunan fisik maupun capaian statistik. Lebih jauh, pembangunan ditempatkan sebagai bagian dari upaya mewujudkan keadilan, memperkuat konektivitas antarmasyarakat, serta memastikan pemerataan kesempatan bagi seluruh generasi.
Melalui kumpulan perspektif tersebut, buku ini menawarkan pembacaan mengenai kepemimpinan sebagai proses yang terus berkembang. Gagasan, keteguhan nilai, dan kerja nyata menjadi sejumlah tema yang diangkat untuk merefleksikan tantangan kepemimpinan Indonesia pada masa mendatang.
Comment