RI Kutuk Serangan ke UNIFIL yang Gugurkan 3 Prajurit TNI, Desak Investigasi

Foto: BPMI Setpres

Jakarta, Respublica— Pemerintah Indonesia berbelasungkawa atas wafatnya tiga prajurit penjaga perdamaian Tanah Air saat menjalankan misi dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon.

Tiga personel yang gugur tersebut adalah Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadon.

ads

“Berharap dan berdoa semoga para kusuma bangsa ini arwahnya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa, dan keluarganya diberi kesehatan, kesabaran dalam menghadapi musibah ini,” ujar Menteri Luar Negeri Sugiono dalam keterangannya di Bandar udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu, (4/2/2026).

“Tadi malam juga saya menerima laporan bahwa ada tiga prajurit TNI yang terluka, yang juga penyebabnya seperti halnya dari dua insiden yang sebelumnya terjadi itu masih diinvestigasi oleh UNIFIL,” tambahnya.

Merespons kejadian tersebut, pemerintah melalui Perwakilan Tetap di New York telah menempuh jalur diplomatik dengan mengajukan permintaan kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar segera menggelar pertemuan.

Kata Sugiono, permintaan itu telah mendapat persetujuan dari Prancis sebagai penholder isu Lebanon di Dewan Keamanan PBB.

“Rapat luar biasa Dewan Keamanan yang intinya, pertama kita mengutuk keras serangan yang dilakukan terhadap penjaga perdamaian dan hal ini UNIFIL. Kemudian kita juga menuntut supaya dilakukan investigasi menyeluruh karena ini adalah misi penjaga perdamaian,” jelasnya.

Menlu Sugiono menegaskan bahwa serangan terhadap personel penjaga perdamaian merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.

Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan maksimal bagi pasukan yang bertugas di bawah mandat internasional tersebut. Menlu menjelaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian berperan sebagai peacekeeping, bukan peacemaking.

“They are peacekeeping, not peacemaking. Mereka tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk membuat ataupun peacemaking,” ujarnya.

“Perlengkapannya dan latihannya adalah untuk menjaga perdamaian, situasi damai yang dijaga, dan ini juga merupakan mandat dari PBB peacekeeping ini,” tambah Sugiono.

Lebih jauh, Indonesia mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melakukan evaluasi komprehensif terhadap sistem perlindungan dan keselamatan pasukan penjaga perdamaian di berbagai wilayah misi, terutama dalam operasi UNIFIL di Lebanon.

“Kita sekali lagi berupaya agar pasukan penjaga perdamaian kita diberi, agar pasukan perdamaian kita ini sehat, selamat dalam menjalankan tugas yang diembankan kepada mereka,” pungkasnya.

Comment