Banua Pangka, Menjaga Mangrove, Menggerakkan Ekonomi Pesisir

Sumber foto: screenshot video Instagram Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Luwu Timur

Luwu Timur, Respublica— Jika perjalanan ke Luwu Timur membawa Anda menyusuri kawasan pesisir, ada satu tempat yang layak dimasukkan dalam daftar persinggahan. Namanya Ekowisata Mangrove Banua Pangka, di Desa Bawalipu, Kecamatan Wotu.

Kawasan ini menawarkan pengalaman wisata yang berbeda. Bukan sekadar hamparan laut atau panorama matahari terbenam, tetapi juga lanskap hijau hutan mangrove yang tumbuh di kawasan pesisir.

ads

Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparmudora) Luwu Timur melalui akun media sosial resminya pada 11 September 2026 memperkenalkan Banua Pangka sebagai salah satu destinasi yang direkomendasikan bagi wisatawan yang berkunjung ke Luwu Timur.

Salah satu daya tariknya adalah jembatan kayu yang membentang di antara pepohonan mangrove. Dari jalur tersebut, pengunjung dapat berjalan menyusuri kawasan hutan sambil menikmati suasana pesisir yang masih terasa alami.

Waktu berkunjung juga menjadi bagian dari pengalaman. Sore hari menjelang akhir pekan disebut menjadi waktu yang menarik untuk menikmati kawasan ini. Udara yang lebih sejuk dan aktivitas pengunjung yang mulai ramai membuat suasana Banua Pangka terasa lebih hidup.

Namun, daya tarik Banua Pangka tidak berhenti pada pemandangan.

Lokasinya yang berdekatan dengan Pusat Pelelangan Ikan (PPI) membuat kawasan ini memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat pesisir. Di sekitar destinasi juga terdapat sejumlah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal serta warung kopi yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Dengan demikian, kunjungan ke Banua Pangka bukan hanya soal menikmati hutan mangrove. Ada aktivitas ekonomi masyarakat yang ikut bergerak di sekitar kawasan wisata.

Sumber foto: screenshot video Instagram Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Luwu Timur

Mangrove yang Menjaga Pesisir

Di balik jembatan kayu dan pepohonan hijau, mangrove memiliki fungsi ekologis yang jauh lebih penting daripada sekadar menjadi latar foto wisatawan.

Sebuah penelitian mengenai valuasi ekonomi ekosistem mangrove di Banua Pangka, Desa Bawalipu, menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki berbagai fungsi bagi masyarakat pesisir.

Penelitian yang dilakukan Alfia Risa Lestari, Syahrul, dan Muhammad Yunus menemukan bahwa ekosistem mangrove berfungsi sebagai penahan abrasi sekaligus menjadi bagian dari sumber penghidupan masyarakat pesisir Desa Bawalipu.

Mangrove juga memiliki potensi sebagai kawasan wisata yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Penelitian tersebut menghitung total nilai ekonomi ekosistem mangrove Banua Pangka mencapai sekitar Rp1,91 miliar per tahun. Nilai itu berasal dari sejumlah komponen, antara lain nilai guna langsung sebesar Rp426,34 juta per tahun dan nilai guna tidak langsung sekitar Rp1,47 miliar per tahun.

Ada pula nilai opsi dan nilai keberadaan yang masing-masing tercatat sekitar Rp16,36 juta per tahun.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa nilai sebuah kawasan mangrove tidak selalu dapat dilihat dari aktivitas wisata yang tampak di permukaan. Ada fungsi ekologis dan ekonomi yang berjalan bersamaan.

Mangrove menahan abrasi, menjadi bagian dari ekosistem pesisir, menopang aktivitas masyarakat, sekaligus membuka peluang bagi pengembangan wisata.

Ketika Wisata Bergantung pada Masyarakat

Persoalan berikutnya adalah siapa yang menjaga keberlangsungan kawasan tersebut. Penelitian Nilda dari Jurusan Geografi Universitas Negeri Makassar pada 2023 secara khusus mengkaji partisipasi masyarakat dalam perkembangan Ekowisata Hutan Mangrove Banua Pangka.

Hasil penelitian itu menunjukkan masyarakat telah terlibat dalam pelestarian mangrove melalui sejumlah tahapan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga evaluasi.

Namun, tingkat partisipasi masyarakat dalam perkembangan ekowisata tersebut berada dalam kategori sedang. Temuan itu penting karena keberadaan destinasi wisata berbasis alam pada akhirnya sangat bergantung pada masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Kesadaran tentang pentingnya menjaga mangrove memang telah tumbuh. Tetapi kesadaran tersebut masih perlu diperkuat agar keberadaan ekosistem dan kawasan wisata dapat bertahan dalam jangka panjang.

Penelitian tersebut juga mencatat perkembangan Ekowisata Mangrove Banua Pangka yang belum konsisten. Dalam beberapa periode mengalami peningkatan, tetapi pada waktu lain justru menurun.

Salah satu persoalannya adalah pengelola yang berasal dari kalangan pemuda mulai memiliki kesibukan lain. Sebagian telah berkeluarga dan bekerja di luar daerah. Kondisi serupa juga terjadi pada masyarakat sekitar yang memiliki pekerjaan masing-masing sehingga perhatian terhadap pengelolaan dan pelestarian kawasan wisata tidak selalu dapat dipertahankan.

Comment