IAS Kantongi Diskresi Bahlil, Asratillah: Dukungan DPD II Golkar Tetap Jadi Penentu

Makassar, Respublica— Surat diskresi yang diberikan Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dinilai mengubah konfigurasi politik menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan. Meski demikian, diskresi tersebut belum menjadi jaminan kemenangan bagi IAS.

Direktur Profetik Institute, Asratillah, menilai surat diskresi memberikan legitimasi penuh bagi IAS untuk maju sebagai kandidat dalam kontestasi Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel. Namun, menurutnya, hasil akhir Musda tetap ditentukan oleh suara para pemilik hak pilih.

ads

“Karena itu, selama dukungan mayoritas DPD II kepada Munafri Arifuddin benar benar tetap solid hingga hari pemungutan suara, maka peluang Appi tetap sangat besar untuk memenangkan Musda,” ujarnya, Sabtu (27/6/2026).

Asratillah menjelaskan, kekuatan utama Munafri atau Appi terletak pada konsolidasi di tingkat akar rumput partai. Dalam mekanisme Partai Golkar, dukungan DPD II tidak hanya bernilai administratif, tetapi juga mencerminkan tingkat kepercayaan struktur daerah terhadap kapasitas seorang calon.

“Dukungan seperti ini biasanya dibangun melalui komunikasi yang panjang dan hubungan politik yang tidak lahir dalam waktu singkat. Karena itu, diskresi dari DPP memang menjadi modal penting bagi IAS, tetapi modal tersebut tetap harus diterjemahkan menjadi dukungan nyata dari para pemilik suara,” jelasnya.

Di sisi lain, Asratillah menilai diskresi memiliki kekuatan pada aspek legitimasi politik. Keputusan DPP menunjukkan bahwa IAS merupakan figur yang dinilai layak bersaing memperebutkan kursi Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel.

Ia menambahkan, surat diskresi juga berpotensi memengaruhi persepsi sebagian pemilik suara karena memberi sinyal adanya kepercayaan dari pimpinan nasional partai.

Namun, pengalaman berbagai Musda menunjukkan legitimasi dari DPP tidak selalu berujung pada kemenangan jika tidak dibarengi konsolidasi yang kuat di tingkat daerah.

Asratillah juga menyoroti pertemuan antara IAS dan Appi yang belakangan menjadi perhatian publik. Menurutnya, pertemuan tersebut lebih tepat dibaca sebagai sinyal politik yang positif dibandingkan langsung dimaknai sebagai rekonsiliasi atau kesepakatan politik. Ia menilai komunikasi antarkandidat merupakan hal yang lazim dalam tradisi Partai Golkar.

“Pertemuan itu dapat dibaca sebagai upaya membangun saling pengertian agar kompetisi tetap berlangsung sehat tanpa merusak hubungan antar kader,” ujarnya.

Menurut Asratillah, pertarungan menuju Musda Golkar Sulsel kini memasuki fase yang semakin menentukan. IAS memiliki modal berupa legitimasi dari DPP melalui surat diskresi, sementara Appi mengandalkan dukungan yang selama ini dibangun di tingkat DPD II. Kedua modal itu sama-sama penting dan belum ada yang benar-benar lebih menentukan dibanding yang lain.

“Karena itu, hasil Musda nantinya akan sangat bergantung pada kemampuan masing masing kandidat menjaga soliditas pendukungnya, membangun komunikasi dengan kelompok yang belum menentukan pilihan, serta meyakinkan pemilik suara bahwa merekalah figur yang paling mampu membawa Golkar Sulsel kembali menjadi kekuatan utama pada Pemilu 2029,” tutupnya.

Comment