Partai Gelora Soroti 3 Prajurit TNI Tewas Diserang Israel di Lebanon, Desak Investigasi

Jakarta, Respublica— Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Mahfuz Sidik, menyampaikan duka mendalam atas gugurnya tiga prajurit terbaik TNI yang tergabung dalam Satgas Yonmek TNI-Konga XXIII-S UNIFIL. Ketiganya meninggal dunia akibat serangan artileri militer Israel (IDF) di wilayah Lebanon Selatan pada Senin (30/3/2026).

“Keluarga Besar Partai Gelora Indonesia mengucapkan Turut Berduka Cita atas gugurnya prajurit Satgas Yonmek TNI-Konga XXIII-S UNIFIL. Semoga Allah SWT menempatkan mereka dalam barisan Syuhada dan seluruh keluarga mereka diberikan kekuatan, serta ketabahan,” kata Mahfuz dalam keterangannya, Selasa (31/3/2026).

ads

Tiga prajurit yang gugur diketahui adalah Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadon. Mereka tengah menjalankan tugas sebagai pasukan penjaga perdamaian Indonesia dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Timur Tengah, saat terjadi serangan Israel secara berturut-turut di wilayah tersebut.

Peristiwa ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang meningkat, di mana Israel memperluas operasi militernya hingga ke wilayah Lebanon selatan sejak awal Maret 2026.

Mahfuz menilai insiden tersebut harus menjadi perhatian serius bagi Indonesia. Ia menekankan perlunya investigasi menyeluruh serta pertanggungjawaban atas kejadian yang dinilai mencederai semangat misi perdamaian dunia.

“Saya kira tidak hanya Partai Gelora yang kehilangan atas gugurnya tiga prajurit terbaik TNI, yang tergabung dalam Satgas Yonmek TNI-Konga XXIII-S UNIFIL. Tapi seluruh Indonesia berduka,” katanya.

Ia juga menyoroti serangan militer Israel di garis demarkasi antara Lebanon dan Israel atau yang dikenal sebagai Blue Line. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, khususnya Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 Tahun 2006.

“Blue Line adalah area bebas senjata, penghentian permusuhan dan berlaku ketentuan inviolability, yaitu tidak boleh dilanggar oleh para pihak yang bersengketa,” tegas Mahfuz Sidik.

Lebih lanjut, ia menilai serangan berulang di wilayah demarkasi membuat posisi pasukan penjaga perdamaian di bawah mandat PBB menjadi semakin rentan dan berisiko tinggi.

“Meskipun pasukan UNIFIL memiliki kewenangan melakukan self-defense, yaitu menggunakan kekuatan senjata untuk pertahanan diri, namun dalam serangan militer Israel yang menggunakan rudal, akan membuat pasukan UNIFIL sulit melakukan self-defence,” kata dia.

Mahfuz yang pernah mengunjungi markas pasukan TNI di Lebanon Selatan menegaskan bahwa penggunaan rudal dalam serangan tersebut sangat mengancam keselamatan personel perdamaian Indonesia.

“Nyawa mereka terancam setiap saat.” Tegasnya.

Ia juga mengkritik tindakan militer Israel yang dinilai kerap melanggar kesepakatan internasional, termasuk selama periode gencatan senjata di Gaza sejak Oktober tahun lalu.

“Militer Israel masih kerap melakukan pemboman di wilayah Gaza dan kantong-kantong pengungsian,” ungkapnya.

Mahfuz mengungkapkan, berdasarkan data yang ia himpun, sejak Oktober 2025 hingga Maret 2026, ratusan warga sipil Gaza menjadi korban akibat serangan militer Israel.

“Jadi jika kali ini militer Israel melanggar aturan Blue Line di Libanon Selatan dan mengakibatkan tiga pasukan TNI gugur, ini adalah pola ulangan dari perilaku brutal militer Israel,” ungkap Ketua Komisi I DPR RI periode 2010-2017.

Menanggapi situasi tersebut, Mahfuz mengusulkan agar pemerintah Indonesia menunda serta mengevaluasi kembali rencana pengiriman pasukan stabilisasi internasional (ISF) di bawah payung Board of Peace.

“Saya mendesak agar pemerintah menunda dan mengkaji ulang rencana pengiriman pasukan ke Gaza,” kata Sekjen Partai Gelora ini.

Ia menilai, dengan kondisi keamanan yang terus memburuk dan pelanggaran yang berulang, tidak ada jaminan keselamatan bagi pasukan internasional yang akan ditempatkan di wilayah konflik tersebut.

Apalagi, menurutnya, terdapat dorongan dari pihak Israel agar pasukan stabilisasi di Gaza nantinya menjalankan tugas perlucutan senjata terhadap kelompok Hamas dan pendukungnya.

“Hal ini tentu akan sangat beresiko tinggi bagi keamanan dan nyawa pasukan TNI di Gaza,” tutup Mahfuz.

Comment