Makassar, Respublica— Pakar hukum tata negara Indonesia, Prof. Zainal Arifin Mochtar, menanggapi beredarnya poster penolakan terhadap sutradara film “Pesta Babi”, Dandhy Laksono, di Kota Makassar.
Poster tersebut bertuliskan “Masyarakat Makassar Menolak Kedatangan Dandhy Laksono Sutradara Film Pesta Babi” dan ramai beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir.

Diketahui, film “Pesta Babi” mengangkat isu eksploitasi lingkungan, khususnya di Papua. Pemutaran film tersebut sebelumnya juga dilaporkan mengalami pembubaran di sejumlah daerah oleh aparat TNI hingga pihak kampus.
Menanggapi hal itu, Zainal mengaku terkejut dengan munculnya penolakan terhadap pemutaran film maupun kedatangan sang sutradara di Makassar.
“Melihat ini dikirimkan oleh seorang teman, saya nyaris nda percaya. Kok bisa? Anak-anak di Kota Makassar, dari suku Bugis maupun Makassar takut dengan film?” ujar Zainal dalam keterangannya di media sosial.
Prof. Uceng, sapaan akrabnya mengaku heran jika masyarakat Makassar dianggap takut terhadap sebuah karya film. Menurutnya, budaya masyarakat Bugis-Makassar justru dikenal memiliki tradisi intelektual dan keberanian yang kuat.
“Saya yang pernah hidup di sana lama, sampai sekarang reguler pulang dan sangat mencintai daerah itu tentu terkejut, sejak kapan jadi marah dan takut akan film,” lanjutnya.
Uceng kemudian menyinggung hasil riset antropolog asal Prancis, Christian Pelras, yang menyebut masyarakat Bugis bukan sekadar suku pelaut atau perantau, melainkan bagian dari peradaban maritim dengan tradisi intelektual yang kuat.
Ia juga mengutip pandangan sejarawan sekaligus sosiolog asal Amerika Serikat, Leonard Andaya, terkait karakter masyarakat Makassar yang dikenal memiliki militansi dan identitas politik yang kuat.
“Itu sebabnya saya gak percaya. Dan saya yakin, Kota Makassar tak sejumud itu,” katanya.
Zainal menegaskan tidak ada alasan untuk takut terhadap sebuah film. Ia bahkan mengutip pepatah Bugis-Makassar sebagai simbol keberanian dalam memegang kebenaran.
“‘Kupare’ngkeng ri boko, kupada’ngkeng ri munri’ adalah pegangan keberanian untuk teguh pada kebenaran. Tentu, tak ada alasan takut pada film,” tutupnya.
Diketahui, Dandhy Laksono dijadwalkan berkunjung ke Makassar dalam sejumlah event salah satunya di MIWF 2026. Ia bakal menjadi pembicara mengenai diskusi buku Reset Indonesia.
Meski beredar poster penolakan, namun Dandhy Laksono tetap akan berkunjung ke Makassar. “Saya akan tetap datang ke Makassar,” tulis Dandhy di kolom komentar Instagram Zainal Arifin Mochtar.
Comment