Makassar, Respublica— Program Jelajah Sampah yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar tidak hanya diisi aksi memungut sampah. Program tersebut juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk mengenal berbagai metode pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung di 14 kecamatan itu ditutup di Kecamatan Tamalanrea, Jalan Bumi Tamalanrea Permai, Minggu (16/8/2026).

Dalam pelaksanaannya, sampah yang dikumpulkan masyarakat dipilah menjadi tiga kelompok utama, yakni organik, anorganik, dan residu.
Masing-masing jenis kemudian diarahkan ke jalur pengelolaan berbeda berdasarkan karakteristik dan nilai manfaatnya.
Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan sampah organik seperti sisa makanan, daun, dan material mudah terurai dapat diolah menjadi kompos maupun dimanfaatkan melalui fasilitas pengolahan yang tersedia di tingkat kecamatan dan kelurahan.
Pada sejumlah wilayah, sampah organik juga dimanfaatkan untuk mendukung pembuatan biopori dan pengolahan di Teba.
Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dipisahkan dan disalurkan melalui Bank Sampah maupun Bank Sampah Unit (BSU).
“Adapun sampah residu yang tidak dapat lagi dimanfaatkan atau diolah melalui proses pemilahan di tingkat sumber ditangani oleh petugas dan armada kebersihan untuk selanjutnya dikelola sesuai mekanisme yang ditetapkan Pemerintah Kota Makassar,” katanya, menjelaskan.
Menurut Helmy, konsep tersebut menjadi bagian dari perubahan pola pengelolaan sampah di Makassar. Sampah yang masih dapat dimanfaatkan tidak lagi diarahkan seluruhnya ke TPA, melainkan diolah atau disalurkan melalui jalur pengelolaan yang sesuai.
Jelajah Sampah juga dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat mengenai berbagai cara mengolah sampah.
Kegiatan tidak hanya dilaksanakan di dalam ruangan, tetapi juga dilengkapi aktivitas luar ruangan yang melibatkan masyarakat.
Untuk kegiatan indoor, masyarakat mendapatkan edukasi dan pelatihan mengenai berbagai metode pengolahan sampah, seperti pembuatan kompos menggunakan biopori dan komposter, pengolahan sampah organik dengan maggot, hingga pembuatan eco-enzyme.
Sementara kegiatan outdoor diisi dengan talk show, diskusi mengenai persoalan persampahan di Kota Makassar, pameran produk daur ulang, hingga aksi plogging dan penimbangan sampah.
Helmy mengatakan pendekatan edukatif dan interaktif tersebut dilakukan agar informasi mengenai pengelolaan sampah dapat menjangkau berbagai kelompok masyarakat.
“Melalui Jelajah Sampah, masyarakat diajak mengenal lebih dekat persoalan sampah di wilayahnya sekaligus belajar bagaimana menjadi bagian dari solusinya,” jelasnya.
Masyarakat juga diajak membiasakan pemilahan sampah menjadi organik, anorganik, dan residu. Kebiasaan tersebut diharapkan tidak berhenti ketika kegiatan Jelajah Sampah selesai.
Program tersebut menjadi salah satu langkah DLH Makassar dalam memperkuat target Makassar Bebas Sampah 2029 melalui pengelolaan sampah yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan berbasis partisipasi masyarakat.
“Ini merupakan momentum kolaboratif untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam upaya pembatasan timbulan sampah,” ungkap Helmy.
DLH Makassar selanjutnya akan terus mendorong kolaborasi dengan masyarakat agar pemilahan dan pengolahan sampah dapat diterapkan secara konsisten, mulai dari rumah, lingkungan RT/RW, hingga tingkat kecamatan.
“Dengan berakhirnya rangkaian di Kecamatan Tamalanrea, Jelajah Sampah telah masuk di 14 kecamatan, sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif seluruh masyarakat,” tukasnya.
Comment