Luwu Timur, Respublica— Yayasan Salam Insan Paripurna (SIP) bekerja sama dengan Bapperida Kabupaten Luwu Timur (Lutim) telah menyelesaikan Riset Pengembangan Pariwisata Berbasis Adat di Kecamatan Wotu pada Rabu, (3/12/2025).
Seminar Akhir dan Diseminasi Buku yang berlangsung di Aula Kantor Desa Arolipu dihadiri oleh perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Tokoh Adat Kemacowaan Wotu, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa Lampenai dan Desa Arolipu, serta unsur masyarakat.

Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan peluncuran buku “Wotu: Menghidupkan Adat, Menggerakkan Pariwisata.” Dalam pemaparannya, Dr. Sabara Nuruddin, M.Fil., menekankan pentingnya menghidupkan kembali ruang adat, tradisi, dan ritus sebagai fondasi pembangunan pariwisata berbasis budaya.
“Buku ini lahir dari keyakinan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi sumber daya masa depan. Wotu hadir sebagai saksi sejarah, ruang spiritual, dan harta budaya yang harus terus dihidupkan melalui kolaborasi masyarakat, adat, dan pemerintah,” ujar Sabara.
Ia juga menyoroti urgensi identitas budaya. Menurutnya, kolonialisme tidak hanya menghilangkan nyawa, tetapi juga berupaya mencabut akar kebudayaan masyarakat.
“Identitas itu penting. Eropa pada era kolonial tidak hanya menjajah Asia, Afrika, dan Amerika Latin, tetapi juga berupaya mencabut masyarakat setempat dari akar budayanya, karena bangsa yang kehilangan identitas akan mudah ditaklukkan,” tambahnya.

Dari total 50 peserta yang hadir, mayoritas menunjukkan antusiasme dan memberikan apresiasi atas riset ini. Dewan Adat Kemacowaan Wotu turut menyampaikan rasa takjub mereka terhadap kedalaman kajian yang telah dilakukan.
“Riset ini sangat bagus, namun masih perlu ada penelitian lebih lanjut mengenai adat Wotu, Ritus, dan Situs yang masih banyak belum dikenal khalayak luas,” ujar Rustam Laluka, Anre Guru Pawawa (Menteri Agama Dewan Adat Wotu).
Pernyataan ini diamini oleh Dr. Sabara yang mengakui bahwa masih banyak aspek kebudayaan Wotu yang menunggu untuk diteliti lebih jauh. Ia bahkan menyampaikan komitmennya untuk kembali melanjutkan riset di Wotu.
“Tentu kami mengakui buku ini belum sempurna, karena penelitian yang baik adalah penelitian yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru. Saya pribadi berjanji akan kembali ke sini, karena kunjungan ini bukan yang terakhir bagi saya,” tutup Sabara.
Perwakilan Bapperida, melalui Kabid Riset dan Inovasi Daerah, Ibu Andi Tenri, menegaskan bahwa hasil riset ini akan ditindaklanjuti dan dirumuskan menjadi program dalam anggaran tahun 2026.
Seminar dan bedah buku ditutup dengan penyerahan dokumen Buku secara simbolis kepada Dewan Adat Wotu dan Pihak Bapperida Kabupaten Luwu Timur.
Comment