Poltekpar Makassar Gelar TECD Forum 2026, Bahas Pariwisata Berkelanjutan

Makassar, Respublica— Politeknik Pariwisata Makassar kembali menunjukkan konsistensinya dalam mendorong penguatan keilmuan dan praktik pariwisata berkelanjutan melalui penyelenggaraan Tourism, Environment, and Community Development (TECD) Forum 2026.

Kegiatan ini digelar secara luring di D’Anjong Hotel Makassar dan turut disiarkan daring melalui Zoom, dengan melibatkan akademisi, peneliti, praktisi industri, mahasiswa, hingga mitra institusi dari dalam dan luar negeri.

ads

TECD Forum 2026 dirancang sebagai ruang diskusi ilmiah yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membedah tantangan sekaligus peluang pembangunan pariwisata di tengah perubahan global.

Fokus pembahasan diarahkan pada pentingnya keseimbangan aspek ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan dalam setiap kebijakan maupun tata kelola destinasi.

Forum ini berada di bawah koordinasi Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) dengan Prof. Ilham Junaid sebagai ketua panitia.

Selain menjadi ajang pemaparan hasil riset, kegiatan ini juga difungsikan sebagai platform kolaborasi lintas sektor guna memperkuat jejaring kerja sama nasional dan internasional.

Dinamika diskusi yang berkembang menegaskan urgensi pendekatan pembangunan pariwisata yang inklusif, adaptif, dan berbasis komunitas.

Mewakili Direktur, Wakil Direktur Bidang Akademik Muh. Arfin Muh. Salim menegaskan bahwa forum ini merupakan bagian dari strategi institusi dalam memperkokoh peran pendidikan vokasi sebagai penggerak utama pembangunan pariwisata nasional.

Ia menilai sinergi antara riset, proses pembelajaran, dan kebutuhan industri harus terus diperkuat agar lulusan memiliki kompetensi relevan dan mampu menjawab tuntutan keberlanjutan.

Menurutnya, perkembangan ilmu pariwisata saat ini tidak bisa dilepaskan dari isu global seperti perubahan iklim, kerusakan lingkungan, digitalisasi, hingga perubahan preferensi wisatawan.

Karena itu, perguruan tinggi vokasi dituntut menghadirkan inovasi berbasis riset terapan yang dapat diimplementasikan langsung di destinasi.

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Martini Mohamad Paham, yang mengikuti secara daring.

Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan sebagai fondasi masa depan sektor pariwisata nasional.

“Masa depan pariwisata Indonesia sangat ditentukan oleh cara kita mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia secara berkelanjutan,” ujar Ir. Martini Mohamad Paham.

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan industri menjadi faktor krusial dalam membangun ekosistem pariwisata yang tangguh dan kompetitif di tingkat global.

Pendidikan vokasi dipandang strategis dalam menyiapkan tenaga kerja yang adaptif terhadap prinsip keberlanjutan dan memiliki kompetensi hijau.

Mengangkat tema Strengthening Partnership and Collaboration for Economic, Socio-Cultural and Environmental Sustainability, forum ini menghadirkan pembicara dari sejumlah institusi terkemuka, seperti Politeknik Pariwisata Bali, Universiti Sultan Zainal Abidin, serta University of New Orleans.

Kehadiran narasumber internasional memperkaya perspektif, khususnya dalam membandingkan praktik pengelolaan destinasi berkelanjutan di berbagai negara.

Dalam sesi pleno dan paralel, peserta mempresentasikan beragam isu strategis, mulai dari pengembangan ekowisata bahari berbasis konservasi, peningkatan kapasitas SDM dengan kompetensi hijau, transformasi digital dalam manajemen destinasi, penguatan pariwisata berbasis masyarakat, hingga integrasi prinsip keberlanjutan dalam kurikulum vokasi.

Rangkaian diskusi tersebut memperlihatkan adanya kesadaran bersama bahwa pembangunan pariwisata tidak lagi sekadar mengejar angka kunjungan, tetapi harus menitikberatkan pada kualitas pengalaman wisatawan, kesejahteraan masyarakat lokal, serta perlindungan lingkungan.

Pendekatan kolaboratif dipandang sebagai fondasi utama dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian nilai sosial budaya. Melalui TECD Forum 2026, Politeknik Pariwisata Makassar menegaskan posisinya sebagai pusat pengembangan riset terapan dan inovasi pariwisata berkelanjutan di kawasan timur Indonesia.

Forum ini diharapkan melahirkan rekomendasi akademik, model praktik terbaik, serta peluang kolaborasi konkret guna mempercepat pembangunan pariwisata Indonesia yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan di level nasional maupun global.

Comment