DLH Makassar Perluas Edukasi Pilah Sampah Lewat Program Jelajah Sampah

Makassar, Respublica— Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar memperluas edukasi persampahan untuk mendorong kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah tangga. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan penerapan sistem pengelolaan sampah yang baru di Kota Makassar.

Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan perubahan sistem pengelolaan sampah harus diikuti dengan perubahan perilaku masyarakat. Menurutnya, pemilahan dari sumber menjadi salah satu kunci agar pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif.

ads

Hal itu disampaikan Helmy dalam pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kebijakan dan Strategi Daerah (Jakstrada) Persampahan, Kamis (16/7/2026).

“Karena itu edukasi kepada masyarakat menjadi sangat penting agar proses pemilahan sampah sudah dilakukan sejak dari rumah,” katanya.

Salah satu upaya yang dilakukan DLH yakni melalui program Jelajah Sampah. Kegiatan tersebut telah digelar di empat kecamatan dan direncanakan terus menyasar wilayah lain di Kota Makassar.

Helmy menjelaskan, Jelajah Sampah tidak hanya berorientasi pada kegiatan pengumpulan sampah. Program itu juga dimanfaatkan sebagai ruang edukasi bagi warga mengenai pemilahan, upaya mengurangi timbulan sampah rumah tangga, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular.

“Jelajah Sampah sekarang sudah dilaksanakan di empat lokasi. Insya Allah besok masuk lokasi yang kelima,” terangnya.

“Harapan kami kegiatan ini terus memberikan edukasi kepada masyarakat sekaligus menyosialisasikan berbagai program pemerintah di bidang persampahan,” sambung Helmy.

Libatkan Ratusan Warga

Program tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Helmy menyebut jumlah warga yang ikut dalam setiap kegiatan cukup besar, dengan rata-rata sekitar 500 peserta pada setiap pelaksanaan.

“Animo masyarakat cukup tinggi. Ini menunjukkan semangat masyarakat sudah mulai berubah. Mereka lebih ingin tahu dan lebih peduli terhadap pengelolaan sampah,” bebernya.

Dari empat kecamatan yang menjadi lokasi Jelajah Sampah, total sampah yang berhasil dikumpulkan memiliki jumlah berbeda-beda. Di Kecamatan Panakkukang tercatat 78 kilogram, Tamalate 220,48 kilogram, Bontoala 65 kilogram, sedangkan Kecamatan Manggala sebanyak 17 kilogram.

Namun, Helmy menekankan bahwa banyaknya sampah yang berhasil dikumpulkan bukan menjadi ukuran utama keberhasilan kegiatan tersebut. Bagi DLH, perubahan kebiasaan dan perspektif warga dalam memperlakukan sampah jauh lebih penting.

“Yang paling penting ketika bicara soal sampah adalah mengubah perilaku dan cara pandang masyarakat.”

Ia menegaskan pengelolaan sampah tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Keterlibatan masyarakat dibutuhkan agar sistem persampahan dapat berjalan mulai dari lingkungan paling kecil.

“Kami ingin tanggung jawab pengelolaan sampah bukan hanya menjadi urusan pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga,” tegasnya.

Karena itu, Jelajah Sampah dirancang dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat dan pemerintahan. RT dan RW, pemerintah kelurahan serta kecamatan, komunitas lingkungan, hingga relawan dilibatkan untuk mendorong terbentuknya kebiasaan pengelolaan sampah dari tingkat lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, DLH berharap kesadaran memilah dan mengelola sampah tidak hanya muncul saat kegiatan berlangsung, tetapi menjadi kebiasaan yang diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Comment